22 Sep

*Ketulusan hati*

dandri Ketika seseorang berbicara tentang cinta, maka apa yang sebetulnya sedang bercokol dalam hatinya adalah untuk dicintai.

Kalaupun ia mencoba mencintai seseorang, maka itu hanyalah agar dicintai. Ia mencintai untuk dicintai, sebagai balasannya. Dan bilamana ternyata yang dicintainya itu tidak membalasnya, maka ia akan sangat mudah berubah, bahkan berbalik membenci. Ia merasa kecewa, direndahkan, disepelekan, tidak dihargai, ditolak, ditampik, terhina atau sejenisnya. Yang tadinya ia sangka sebagai prilaku mencintai, kini telah berubah sama sekali. Kini ia berubah menjadi benci, bahkan dendam.

Apa yang sesungguhnya terjadi padanya? Apakah ia memang benar- benar mencintai orang, yang konon tadinya ia cintai itu? Ternyata tidak. Bukan karena ia kini membenci atau mendendam, namun karena keinginannya untuk memiliki, menguasai, mengangkangi bagi dirinya sendiri. Yang ada ketika itu sebetulnya samasekali bukan cinta. Ketulusan itu tidak menuntut…Ketulusan itu, tidak mengharapkan adanya sikap balas budi… karena dalam perbuatan tulus, ada pengorbanan…

Oleh karena perbuatan sebuah tindakan yang didasarkan pada ketulusan hati, seseorang akan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain karena perbuatan yang dilandasi ketulusan tersebut, telah membuka pintu harapan (bahkan mungkin pula pintu kehidupan) kepada orang lain yang menerima perbuatan tulus tersebut.

Terkait dengan sebuah hubungan cinta kasih;

-Pada saat kita telah menerima atau telah menyatakan pernyataan cinta kepada seseorang yang kita kasihi, itu sama artinya kita telah siap untuk membagi hati serta sebagian waktu kita dalam mengisi hari-hari kita bersama pacar.

-Adanya penerimaan diri untuk membuka hati dalam menerima atau menyatakan rasa cinta kepada seseorang, seharusnya diikuti pula oleh adanya keterbukaan pola pikiran kita, karena sikap open minded kita, kelak akan sangat mempengaruhi serta menentukan pada cara pandang atau pada cara kita memandang kepribadian maupun kehidupan pacar dari kita. Kenapa begitu? Karena salah satu hakekat mengasihi orang lain dengan penuh ketulusan itu, adalah mencerna terlebih dahulu baru berpendapat atau bertindak.

-Berbuatlah,,,,,karena hati kita yakin bahwa perbuatan kita itu adalah sebuah perbuatan benar. Janganlah kita membangun opini pribadi yang ingin menghadirkan suatu pola pandangan sebagai sebuah pembenaran. Ini merupakan suatu keadaan atau pemikiran ideal apabila kita memang benar-benar tulus mencintai serta menyayangi pacar kita.

-Cara menentukan sikap yang didasarkan pada cara memandang kepribadian serta kehidupan pacar kita, akan turut menentukan atau mempengaruhi penilaian kita terhadap pacar kita, yang kelak dapat berujung pada hadirnya sikap tulus untuk mau menerima keberadaan dan kondisi pacar, atau bahkan pada saat kita akan mengapresiasikan rasa sayang kita pada pacar kita. Hal itu perlu kita lakukan agar kita tidak melihat kekurangan yang ada pada pacar kita sebagai sesuatu yang bisa merusak hubungan cinta kasih dengan pacar, namun menghadirkan sikap diri untuk mau membantu memperbaiki atau menutupi kekurangannya itu. Sikap ini merupakan tanda penerimaan kita, untuk mau mengenal serta perduli atas apa yang ada dalam diri kekasih hati kita, sehingga apabila pada suatu waktu kita menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang pacar kita, itu tidak akan membuat kita langsung terpengaruh atau terbakar emosi.

-Sisi kekurangan dalam diri seseorang, adalah sisi rentan yang dapat dijadikan alasan bagi seseorang untuk berubah sikap setia (melakukan perselingkuhan) atau memutuskan hubungan pacaran dengan kekasih hatinya. Apabila dalam menjalin hubungan kasih dengan kekasih hatinya tidak ada kesungguhan hati dari dalam diri seseorang untuk tulus mencintai serta dengan sepenuh hati menyayangi kekasih hatinya itu, maka besar kemungkinan, orang tersebut sulit untuk dapat menjaga kesetiaannya kepada sang pacar.

-Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kita tidak boleh bersikap egois. Kita tidak boleh banyak menuntut, memaksakan diri kita dan menganggap diri kita adalah yang terbaik atau sebagai pribadi yang tidak memiliki kesalahan. Kita seharusnya sadar, bahwa kita juga bukanlah individu yang sempurna. Kelanjutan kisah percintaan pada sepasangan anak manusia yang sedang berpacaran, dapat menghadapi suatu kendala pada saat salah satu dari pasangan tersebut masih mempertahankan sikap ego diri, terutama ketika sikap ego tersebut ditunjukkan secara berlebih-lebihan.

Egoisme sikap, pada dasarnya dapat menghalangi tumbuhnya sikap tulus di dalam diri seseorang karena sikap egois membuat seseorang cenderung hanya memperhatikan atau mementingkan kepentingan diri sendirinya, dan seakan-akan lupa untuk berbuat baik kepada orang lain. Adanya egoisme, dapat membuat seseorang menjadi selalu memperhitungkan setiap perbuatan yang dilakukannya kepada orang lain. Hal tersebut justru membuat kita sulit untuk berbuat tulus pada orang lain.

Untuk apa kita mempertahankan sikap egoisme kita, kalau sikap egois tersebut justru membuat kita menghadapi dilema dalam membina hubungan harmonis dengan pacar karena pacar kita telah kecewa terhadap sikap kita itu?

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Untuk apa kita lebih mementingkan diri (tidak memiliki respon baik pada lingkungan sekitar) kita sendiri, kalau sikap egois tersebut justru
membuat pacar menjadi tidak senang sama kita? Hubungan dengan pacar dapat merenggang, bahkan bisa membuat putus hubungan pacaran.

Apabila kita memang sudah memutuskan untuk bersedia berbagi kasih dengan orang lain, maka kita juga harus bisa menyatakan sikap tulus kita pada pasangan kita (dalam arti positif, tentunya).

Cinta memang indah seperti yang pernah kita dengar, seperti yang kita lihat, seperti yang tertuliskan, dan seperti yang dibicarakan setiap orang. Oleh karena itu, cinta yang tumbuh dan bersemi dalam hati, patut untuk diperjuangkan, dengan mempertaruhkan segala yang ada, termasuk dengan menempatkan ketulusan hati nurani pada saat menjalankannya.

Dengan bersikap tulus, berarti kita telah memberi makna indah akan adanya sikap menghargai orang lain, serta menghargai hubungan yang telah kita bangun dengan kekasih hati kita.

-Ketulusan sikap, bukan hanya membuat orang lain senang, namun juga bisa membahagiakan diri sendiri. Oleh karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang bisa mendorong kita untuk dapat mencintai orang lain dengan tulus.

Bersikap tulus memang seharusnya dijadikan budaya dalam kehidupan setiap orang karena dengan bersikap tulus, itu sama artinya telah menyatakan perbuatan kasih kepada orang lain.

… hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: