Arsip | Agama RSS feed for this section

membangun mental dan kepercayaan diri

28 Jul

“Membangun mental dan kepercayaan diri”

Masalah adalah makanan sehari-hari dalam kehidupan. Dari anak-anak sampai tua, semua orang dalam kehidupannya pasti menghadapi masalah. Namun ternyata, untuk satu masalah yang sama, orang yang berbeda bisa saja menghadapinya secara berbeda. Masalah X akan dihadapi secara berbeda oleh A dan B. A tak bisa menyelesaikan masalah X tersebut. Ternyata, B mampu. Mengapa ini bisa terjadi?

Posisi Mental Tak bisa dipungkiri, semua orang membutuhkan strategi mempertemukan keunggulan diri guna melawan kelemahan lawan. Kemenangan atau kekalahan dalam menghadapi problem sebenarnya tidaklah diukur oleh besar-kecil problem yang mayoritas telah didefinisikan oleh pencitraan umum sebagai suatu persoalan yang sulit, tidak mungkin atau sudah dicoba banyak orang tetapi gagal. Kenyataannya kemenangan dihasilkan oleh strategi bagaimana anda mendifinisikan keunggulan di dalam dan kekurangan di luar sehingga mampu memilih posisi untuk menempatkan postur diri (disebut juga postur mental) secara tepat di hadapan problem. Postur Diri adalah posisi mental tertentu yang anda gunakan dalam melihat suatu persoalan. Secara umum posisi mental setiap orang dapat dikategorikan sebagai berikut :

A. Pemenang Problem seakan-akan seekor gajah dan mayoritas orang menempati posisi mental seperti yang dilakukan orang buta yang meraba gajah tersebut. Dengan posisi mental demikian maka apa yang didefinisikan tentang problem tidak bisa menjabarkan sisi mana yang lebih sederhana dan lebih dulu diselesaikan kecuali hanya dimiliki oleh sedikit orang dengan posisi pemenang. Karakteristik dominan dari seorang postur pemenang adalah sebagai berikut :

  1. Realistik – menempatkan posisi mental berada di atas realitas, tidak tenggelam di dalamnya.
  2. Mengakui – menerima diri, orang lain, dan keadaan dengan memahami hal-hal itu sebagaimana adanya (understanding as they are).
  3. Sederhana – mampu menempatkan diri secara tepat : tidak kurang dan tidak lebih
  4. Problem Solving – melihat persoalan dari partikulasi atau sudut yang paling mungkin untuk diselesaikan. Dengan posisi mental sebagai pemenang maka sangat dimungkinkan bahwa seseorang akan menghasilkan kemenangan di akhir pertandingan melawan problem hidupnya. Setidaknya pun ia masih belum menang secara total tetapi setidaknya sudah bisa mengalahkan mentalitas kalah di dalam dirinya.

B. Pecundang Posisi mental kalah atau pecundang adalah kualitas mental yang melihat problem sebagai masalah absolut, sebuah alasan yang dijustifikasi, dan bukan tantangan yang menuntut solusi. Kekalahan itu bisa diekspresikan dengan penolakan dalam bentuk kerelaan hilangnya harga-diri sebagai manusia normal. Postur pecundang ini tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup berbasis problem yang melihat kenyataan dengan kacamata masalah. Karakteristik dari gaya hidup berbasis problem adalah :

  1. Ketakutan terhadap sesuatu.
  2. Terintimidasi harapan pihak lain.
  3. Kebiasaan yang salah dalam menangani masalah.
  4. Perilaku reaktif semata.Dampak paling buruk dari postur pecundang adalah kerelaan hilangnya harga diri. Kerelaan ini kalau didukung dengan keberanian akan menghasilkan tindakan yang tidak saja merugikan diri sendiri melainkan tindakan brutal yang menghalalkan segala cara dan tentu saja merugikan orang lain.

C. Pasrah Postur ini secara kualitatif berada di antara kedua postur di atas atau lebih tepatnya dikatakan postur berpotensi menang atau kalah, tergantung kemauannya untuk berkembang. Ciri khas yang paling menonjol adalah mempermasalahkan masalah yang sedang menimpanya sebab bagi dirinya masalah adalah sebatas apa yang ia rasakan tidak enak. Biasanya ia sama sekali tidak mengambil prakarsa solusi secara keseluruhan atau bagiannya sebab merasa orang lain di dekatnya lebih mampu. Penyebab dari postur ini adalah kekurangan perangkat sumber daya berupa: pengetahuan atau ketrampilan.

Bagaimana Menjadi Pemenang? Dari ketiga postur di atas, tentu kita ingin diri kita menjadi pemenang, bukan yang pasrah atau pun pecundang. Bagaimana cara untuk mempunyai postur mental pemenang.

Prinsip dasar pembelajaran-diri adalah manusia dilahirkan untuk menyelesaikan semua bentuk problem: kesulitan, dilema, teka-teki, atau misteri. Sesuai dengan perubahan dan kemajuan maka kompleksitas tiap bentuk pun bertambah sehingga mau tidak mau menuntut perbaikan kemampuan menciptakan solusi secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik. Posisi mental pemenang dihasilkan dari upaya pembelajaran-diri secara terus menerus, perbaikan dan peningkatan dari beberapa materi berikut :
1. Membangun Karakter Posisi mental pemenang merupakan cerminan karakter mental menang dan karakter menang didasarkan pada
sejauhmana anda menjiwai keaslian diri anda. Orang yang memahami secara utuh siapa dirinya dengan peranan yang
harus dimainkan, memahami bagaimana lingkungan dan masalah yang dihadapi maka ia akan menghasilkan karakter
superior di mana ia menginjakkan kaki di atas bumi realitas tanpa was-was, atau rasa khawatir atas ancaman yang
muncul dari sesuatu yang tidak diketahui atau virus “Jangan-jangan kalau…”
Dalam menghadapi bentuk dan jenis problem yang sama masing-masing individu bisa memiliki karakter berbeda: kalah –
menang. Karakter kalah sudah lebih dulu dikuasai oleh citra yang dibuat sendiri atau kerelaan menerima secara utuh
definisi atau citra dari orang lain bahwa postur problem yang dihadapi lebih besar dan tidak lagi terbuka celah untuk
dilumpuhkan.
Memiliki posisi mental pemenang atas problem yang anda hadapi diawali dari upaya kristalisasi karakter mental menang
bahwa diri anda lebih besar dari problem; bahwa jumlah solusi yang mampu anda temukan lebih banyak dari jumlah
problem yang anda hadapi; bahwa anda memahami siapa diri anda: kekuatan, kelemahan, dan apa yang akan
dilakukan. Karakater inilah yang harus terus-menerus anda bangun.
2. Membangun Keyakinan
Menghadirkan posisi pemenang atas problem mutlak membutuhkan keyakinan atas kepercayaan diri. Percaya diri
dibentuk dari sejumlah alasan faktual tentang kemenangan masa lalu anda atas berbagai persoalan. Semakin banyak
kesuksesan masa lalu yang anda kumpulkan akan menjadikan anda semakin “PD” menghadapi persoalan sekarang.
Meskipun secara data tehnis bisa jadi berbeda antara problem masa lalu dan sekarang tetapi yang perlu anda
kembangkan adalah karakter mental dan rasa percaya diri.
Selain rasa percaya diri, bentuk keyakinan yang perlu anda kembangkan adalah keyakinan atas kekuatan yang menjadi
sumber segala kekuatan di luar diri anda, yaitu keyakinan Anda tentang kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang
yang tidak punya keyakinan bahwa dirinya dilindungi, dibantu, dijamin perbuatannya tidak sia-sia, maka postur diri yang
dihasilkan adalah postur pasrah atau kalah. Persoalannya adalah bagaimana orang bisa “mendekati” Allah Subhanahu
wa Ta’ala sehingga kekuatan-Nya yang begitu besar tidak dimubazirkan oleh cara memahami yang kurang sesuai.
3. Membangun Dukungan
Dukungan orang lain adalah power bagi anda untuk menghasilkan posisi mental pemenang. Tetapi mendapatkan
dukungan adalah akibat dari usaha anda menciptakan alasan bagi orang lain bahwa anda layak didukung. Semua itu
perlu dimulai dari dalam guna membangun kepercayaan dan kredibilitas secara moral dan professional. Moral adalah
manifestasi kepribadian yang dibentuk oleh nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keikhlasan, pengabdian dan lain-lain,
sementara profesionalitas adalah penguasaan ketrampilan atau pengetahuan khusus.
Untuk mendapatkan dukungan secara utuh, sebaiknya anda menjalankan program kelayakan dipercaya secara
bersamaan: moral dan professional. Sebab kenyataan membuktikan bahwa kelayakan yang dibangun hanya dari salah
satu unsur itu menyimpan kata ‘tetapi’ di akhirnya yang menandakan tidak utuh: “Anda jujur tetapi…?” Atau “Anda pintar
tetapi..?”
Membangun postur diri adalah pencapaian kualitas mental dalam menghadapi problem kehidupan dari waktu ke waktu.
Prinsip yang paling mendasar adalah problem bukanlah ‘kenyataan beku absolut yang tak bisa diubah’ tetapi murni
‘bayang-bayang pikiran’ yang menyisakan sekian banyak sudut pandang. Kemenangan dan kekalahan dalam melawan
problem bukan ditentukan oleh ukuran besar-kecil problem.
Akan tetapi posisi mental yang kita pilih secara rasional untuk mengambil posisi mental pemenang. Sebab fakta alamiah
menunjukkan bahwa semakin “besar” ukuran seseorang semakin besar pula ukuran problem yang dihadapi. Selamat
mencoba.

sumber; http://majalah-elfata.com

perbedaan antara ridho dan pasrah

17 Jul

Antara Rido dan pasrah

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu’ah Al-Islamiyyah Al-‘Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ”Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?” Umar menjawab, ”Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.”

Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a’lam.