Arsip | Lintau Buo RSS feed for this section

Kerajaan pagaruyuang

6 Jul

KERAJAAN PAGARUYUANG

Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh seorang peranakan MinangkabauMajapahit yang bernama Adityawarman, pada tahun 1347. Adityawarman adalah putra dari Mahesa Anabrang, panglima perang Kerajaan Sriwijaya, dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia sebelumnya pernah bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang.

Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi, yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai Nagari dan Luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).

Adityawarman pada awalnya bertahta sebagai raja bawahan (uparaja) dari Majapahit dan menundukkan daerah-daerah penting di Sumatera, seperti Kuntu dan Kampar yang merupakan penghasil lada. Namun dari berita Tiongkok diketahui Pagaruyung mengirim utusan ke Tiongkok seperempat abad kemudian. Agaknya Adityawarman berusaha melepaskan diri dari Majapahit.

Kemungkinan Majapahit mengirimkan kembali ekspedisi untuk menumpas Adityawarman. Legenda-legenda Minangkabau mencatat pertempuran dahsyat dengan tentara Jawa di daerah Padang Sibusuk. Konon daerah tersebut dinamakan demikian karena banyaknya mayat yang bergelimpangan di sana. Menurut legenda tersebut tentara Jawa berhasil dikalahkan.

Pengaruh Hindu

Pengaruh Hindu di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-13 dan ke-14, yaitu pada masa pengiriman Ekspedisi Pamalayu oleh Kertanagara, dan pada masa pemerintahan Adityawarman dan putranya Ananggawarman. Kekuasaan mereka diperkirakan cukup kuat mendominasi Pagaruyung dan wilayah Sumatera bagian tengah lainnya. Pada prasasti di arca Amoghapasa bertarikh tahun 1347 Masehi (Sastri 1949) yang ditemukan di Padang Roco, hulu sungai Batang Hari, terdapat puji-pujian kepada raja Sri Udayadityavarma, yang sangat mungkin adalah Adityawarman.

Walaupun demikian, keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh [2], dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

Pengaruh Islam

Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Papatah adat Minangkabau yang terkenal: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada AI-Quran.

Hubungan dengan Belanda dan Inggris

Ketika VOC berhasil mengalahkan Kesultanan Aceh pada peperangan tahun 1667, melemahlah pengaruh Aceh pada Pagaruyung. Hubungan antara daerah-daerah rantau dan pesisir dengan pusat Kerajaan Pagaruyung menjadi erat kembali. Saat itu Pagaruyung merupakan salah satu pusat perdagangan di pulau Sumatera, dikarenakan adanya produksi emas di sana. Demikianlah hal tersebut menarik perhatian Belanda dan Inggris untuk menjalin hubungan dengan Pagaruyung. Terdapat catatan bahwa tahun 1684, seorang Portugis bernama Tomas Dias melakukan kunjungan ke Pagaruyung atas perintah gubernur jenderal Belanda di Malaka.[3] Sejak saat itu mulailah terbina komunikasi dan perdagangan antara Belanda (VOC) dan Pagaruyung.

Sebagai akibat konflik antara Inggris dan Perancis dalam Perang Napoleon dimana Belanda ada di pihak Perancis, maka Inggris memerangi Belanda dan berhasil menguasai pantai barat Sumatera Barat antara tahun 1795 sampai dengan tahun 1819. Thomas Stamford Raffles mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, dimana saat itu sudah mulai terjadi peperangan antara kaum Padri dan bangsawan (kaum adat) Pagaruyung. Saat itu Raffles menemukan bahwa ibukota kerajaan mengalami pembakaran akibat peperangan yang terjadi. Setelah terjadi perdamaian antara Inggris dan Belanda di tahun 1814, maka Belanda kembali memasuki Padang pada bulan Mei tahun 1819. Belanda memastikan kembali pengaruhnya di pulau Sumatera dan Pagaruyung, dengan ditanda-tanganinya Traktat London di tahun 1824 dengan Inggris.

Runtuhnya Pagaruyung

Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat-saat menjelang perang Padri, meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung.

Pada awal abad ke-19 pecah konflik antara kaum Padri dan golongan bangsawan (kaum adat). Dalam satu pertemuan antara keluarga kerajaan Pagaruyung dan kaum Padri pecah pertengkaran yang menyebabkan banyak keluarga raja terbunuh. Namun Sultan Muning Alamsyah selamat dan melarikan diri ke Lubukjambi.

Karena terdesak kaum Padri, keluarga kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada Belanda. Pada tanggal 10 Februari 1821 Sultan Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Muning Alamsyah, beserta 19 orang pemuka adat lainnya menandatangani perjanjian penyerahan kerajaan Pagaruyung kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda akan membantu berperang melawan kaum Padri dan Sultan diangkat menjadi Regent Tanah Datar mewakili pemerintah pusat.

Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kaum Padri dengan kiriman tentara dari Jawa dan Maluku. Namun ambisi kolonial Belanda tampaknya membuat kaum adat dan kaum Padri berusaha melupakan perbedaan mereka dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir Belanda. Pada tanggal 2 Mei 1833 Yang Dipertuan Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Sultan dibuang ke Betawi, dan akhirnya dimakamkan di pekuburan Mangga Dua.

  1. ^ Djamaris, Edwar. 1991. Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. ^ Cheah Boon Kheng, Abdul Rahman Haji Ismail (1998). Sejarah Melayu. the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.
  3. ^ Haan, F. de, 1896. Naar midden Sumatra in 1684, Batavia-’s Hage, Albrecht & Co.-M. Nijhoff. 40p. 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 39.
Iklan
28 Jun
Dandri

Urang lintau asli

Kondisi Geografis Lintau

Kecamatan Lintau Buo terletak antara 1000 – 1050 Bujur Timur dan 00 – 50 Lintang Selatan,
dengan luas wilayah 28,900 Ha (289 Km2 berada pada ketinggian 220 – 950 meter di atas permukaan laut,
dengan suhu rata – rata 18-300 C dan curah hujan Max 2500 m/Th.
Adapun batas – batas Wilayah kecamatan adalah:

* Sebelah Barat : Kec. Sunyayang/Kec. Tanjung Emas
* Sebelah Timur : Kec. Sumpur Kudus Kab. Swl/Sijunjung
* Sebelah Utara : Kabupaten 50 Kota
* Sebelah Selatan : Kab. Swl/Sijunjung

Kecamatan Lintau Buo terdapat 9 Pemerintah Nagari, yaitu:

1. Nagari Buo
2. Nagari Pangian
3. Nagari Taluak
4. Nagari Balai Tangah
5. Nagari Tepi Selo
6. Nagari Batu Bulek
7. Nagari Tanjung Bonai
8. Nagari Lubuak Jantan
9. Nagari Tigo Jangko

Kecamatan Lintau Buo

Kondisi Geografis secara umum

Kecamatan Lintau Buo Terletak sekitar 45 Km dari Batusangkar dengan ketinggian antara 200 s/d 400 m diatas permukaan laut.
Curah hujan rata-rata 172,06 mm3 per tahun dan merupakan daerah bayang-bayang hujan.

Nama Kecamatan

Lintau Buo

Ibu Kota Kecamatan :Pangian

Batas Wilayah:

> Utara : Kec. Lintau Buo Utara

> Selatan :Kab. Sawah Lunto Sijunjung

> Barat : Kec. Tanjung Mas dan Pd. Ganting

> Timur : Kab. Sawah Lunto Sijunjung

Distribusi penggunaan lahan:

> Sawah: 294,4 Ha
> Perkebunan : 2.403,5 Ha
> Pertanian Sawah Kering : 767 Ha
> Tanah Kosong : 56 Ha
> Lahan Kering : 767 Ha
> Hutan : 5.362 Ha
> Rawa / Danau : 425 Ha
> Perkampungan : 244 Ha
> Lain-lain : 248,1 Ha

Jumlah Nagari : 4 Nagari
Jumlah Jorong : 18 Jorong

Jumlah Penduduk :
> Laki-laki : 8.383 jiwa
> Perempuan : 8.804 jiwa

Fasilitas Pendidikan

> Perguruan Tinggi

>TK : 8 dengan jumlah siswa 243

>SD/MI : 15 dengan jumlah siswa 2.257

>SLTP / MTs : 3 dengan jumlah siswa 702

>SLTA/MA : 2 dengan jumlah siswa 792

Fasilitas Kesehatan:

>Puskesmas : 1 unit
>Puskesmas Pembantu : 5 unit
>Posyandu : 23 unit

Potensi Sektor:

Industri

Merupakan industri pengolahan kayu hasil hutan yang menghasilkan kunsen, daun pintu, bubut dan meubel

Kesenian yang ada

Objek Wisata

1. Ngalau Pangian

2. Titian Rayo Taluk

Lembaga Ekonomi

> Koperasi Unit Desa : 3 unit

Visi dan Misi Kecamatan

>Visi : Menjadikan Kecamatan yang maju melalui pelayanan yang baik

> Misi : Penyelenggaraan pelayanan umum, Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, Pembinaan sosial kemasyarakatan,
Pembinaan usaha, Pemerintahan transparansi partisipasi akuntabilitas

Nagari dan Jorong di Kec. Lintau Buo

Taluak
1. Tigo Tumpuak
2. Taruko
3. Baringin Sakti
4 . Aliran Sungai

Buo

1. Jati Tunggal
2. Imam Bonjol
3. Kampuang Tangah
4. Batang Buo
5. Ustano
6. Kampuang Baru

Pangian

1. Patameh
2. Tago Palange
3. Koto Kaciek
4. Sawahan
5. Koto Gadang
6. Lubuak Batang

Tigo Jangko

1. Rajawali
2. Tuanku Lareh
3. Abdul Rahman
4. Abdul Rahman
5. Gunung Seribu
6. Cendrawasih

Taluk lintau